Pages

Friday, July 22, 2016

(Not Yet) My Pregnancy Journey

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh :--)

Dear All, apa kabar semuanya? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal 'afiat ya! :)

--

Bagi pasangan yang baru menikah, menunggu kehadiran sang janin adalah hal yang paling dinantikan. Ada yang langsung hamil, ada juga yang harus bertahun-tahun memendam keinginan untuk segera hamil.

Infertilitas masih menjadi momok menakutkan di kalangan pengantin baru. Terlebih lagi, adanya pertanyaan "sudah isi belum?" terus menghantui, mulai dari orang tua hingga teman yang tidak terlalu kita sukai.

Kapan seseorang dikatakan mengalami infertilitas? WHO mengemukakan bahwa pasangan suami-istri dikatakan infertil jika mereka sudah satu tahun menikah dan terus mencoba, tapi belum juga dikaruniai seorang bayi. Tapi, apakah harus menunggu selama itu?

Physiologically speaking, seharusnya wanita dengan mudah dapat hamil jika konsepsi dilakukan selama masa subur. Kapan masa subur itu? Yaitu 12-16 hari sejak hari pertama haid terakhir (HPHT). Masa subur biasanya ditandai dengan sekresi lendir berwarna bening dan lengket dari vagina yang mengakibatkan vagina "terasa" selalu basah. Kemungkinan hamil akan jauh lebih besar jika konsepsi dilakukan saat wanita mengalami ovulasi. Apa itu ovulasi? Ovulasi adalah keluarnya ovum (sel telur) dari ovarium sehingga sperma dapat membuahi ovum tersebut. Kapan seorang wanita mengalami ovulasi? Yaitu sekitar 14 hari setelah HPHT yang biasanya ditandai dengan berhentinya sekresi lendir bening dan vagina tidak lagi terasa selalu basah. Sayangnya, setiap wanita hanya mengalami satu kali ovulasi setiap bulannya! Jadi, wanita yang ingin hamil secara alami harus mengetahui siklus menstruasinya sehingga dia dapat dengan tepat memprediksi (ingat ya, hanya memprediksi) kapan ovulasi terjadi.

Masih belum mengerti?

Jadi begini.. Wanita A mengalami menstruasi hari pertama pada tanggal 1 Juli 2016, sehingga diperkirakan dia akan berovulasi pada tanggal 14 Juli 2016. Namun ingat, ini hanya prediksi. Untuk lebih meningkatkan kemungkinan kehamilan, wanita A dan suaminya sebaiknya melakukan konsepsi dalam kurun waktu 12-16 Juli 2016. Kenapa? Karena sperma dapat bertahan di dalam rahim wanita selama kurang lebih 5 hari. Jika mereka sudah konsepsi tanggal 12 Juli tapi tidak bisa konsepsi pada tanggal 13 maupun 14 Juli, sperma masih ada di dalam rahim sang istri sehingga kehamilan masih dapat terjadi.

Sebaliknya, jika suami dan istri ingin menunda kehamilan secara alami, mereka dapat menghindari konsepsi selama masa subur kehamilan (terutama 12-16 hari sejak hari pertama haid terakhir). Theoritically speaking, masa ketidaksuburan wanita biasanya berkisar antara hari ke-7 hingga ke-10 setelah hari pertama haid, dan 7 hari sebelum siklus menstruasi sebelumnya. Kenapa? Karena pada masa ketidaksuburan, ada suatu cairan yang menutup serviks sehingga tidak ada sperma yang mampu masuk ke dalam rahim. Hal ini biasanya ditandai dengan area kewanitaan yang "terasa" kering dan keset.

Bagaimana dengan aku?

Alhamdulillah aku belum diberikan kepercayaan oleh Allah SWT untuk memiliki momongan, hehe. Allah tidak akan menguji suatu kaum di luar batas kemampuan kaum tersebut dan anak adalah suatu bentuk ujian. Jika Allah belum menguji aku dengan kehadiran seorang anak, berarti Allah tau bahwa ujian tersebut di luar batas kemampuanku kan? Lalu kenapa aku bersedih hati? Kenapa aku terlalu memikirkan pertanyaan "udah isi belom"?

Mungkin orang-orang akan turut bergembira jika aku sudah "isi", tapi pada akhirnya akulah yang akan mengurus anak tersebut. Mereka hanya sesekali menengok, sesekali menggendong, sesekali mengunjungiku. Tapi anak itu akan selalu bersamaku 24/7. Mungkin Allah tau aku belum mampu, lalu kenapa aku harus malu?

Bulan puasa lalu aku mengalami pendarahan selama kurang lebih 14 hari nonstop. Diawali dengan flek-flek hitam selama 9 hari, yang awalnya samar hingga sangat pekat dan (maaf) berbau di hari ke-9. Keesokannya keluar darah bergumpal-gumpal besar dan tanpa henti hingga aku harus ganti pembalut berkali-kali. Kram perut yang kualami saat itu juga tidak biasa. Instingku berkata aku miscarriage (keguguran). Aku tidak perlu ke dokter karena miscarriage di bawah usia 4 minggu tidak perlu meminum obat peluruh kandungan. Biarlah dia mengalir apa adanya. Tidak ada yang percaya bahwa aku keguguran, bahkan suamiku sendiri. Tapi di lubuk hatiku yang terdalam aku meyakini bahwa itu adalah jabang bayiku yang luruh dengan sendirinya. Saat itu memang sedang hectic sekali di kampus dan aku lelah sekali harus pulang-pergi Jakarta-Bogor.

Aku sendiri ga tau apakah aku sanggup hamil sambil kuliah? Kuliah Statistika di Bogor dan aku harus pulang-pergi menggunakan kereta dan angkot, berdesak-desakan dengan penumpang lain, dan mengangkut tas super berat? Belum lagi insya Allah aku akan segera menyusun tesis. Sanggupkah aku? Mungkin inilah yang disebut, "Allah tidak akan membebani suatu kaum di luar batas kemampuan kaum tersebut". Mungkin kehamilan masih di luar batas kemampuanku?

Siapa sih yang ga mau hamil? Melihat teman-temanku yang baru menikah sudah menimang-nimang baby yang lucu.. tapi ya itu, tertulis jelas di Alqur'an bahwa Allah berfirman, "bisa jadi kau menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu, bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik bagimu"

Allah memberikan keturunan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan tidak memberikan keturunan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Tertulis jelas di Alqur'an bahwa Allah memberikan/tidak memberikan keturunan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Anak itu Hak Prerogatif Allah!

Percayalah pada Tuhanmu. Dia yang mengatur segala sesuatu. Rezeki itu sudah ada yang mengatur, dekati saja Sang Pengatur.

For my little angel in up above the 7th sky, before Allah thinks I am ready to have you, I will keep upgrading myself to be the best mother figure you've ever met in your life!

Loves,
MOM!

5 comments:

Novi Miftahul Jannah said...

Hallo Mba Zara!

Kenalin aku Novi, udah dari lama baca-bacain blog Mba dan aku selalu kagum dg semangat dan keceriaan Mba. Terus long story short, ternyata Mba saudaranya Aliya ya? Aku temen kuliahnya Aliya hehe aku baru ngeh waktu baca ttg post wedding, sepertinya aku pernah melihatnya di instagram, setelah kukonfirmasi ke Aliya ternyata bener hehe dunia sempit ya Mba :p

Btw, semoga Mba Zara dan suami segera diberi kesiapan untuk memiliki dedek bayi. Sehat terus Mba, semoga semangat untuk terus memperbaiki diri bisa menular :D

adlestari 1715 said...

Halo Zara,
masih ingat aku? (hehehe pernah comment sebelumnya di postingan mu)
Aku suka sekali dengan postingan ini, terlebih di paragraf-paragraf terakhirnya.
Di beberapa hal akupun pernah mengalami dan merasakannya.
Semoga Allah SWT memberikan rencana yang terbaiknya untuk kita. Aamiin.

Zara Fadhila said...

Halo Mba Novi! Semoga mba baca balasanku yaa soalnya aku ga ngerti caranya ngoding biar ada kolom reply nya...... ooo temannya Dek Ala yaaa. Aku "tante"-nya Dek Alaa hehehehe. Anyway lagi prepare wedding yaa jadi sering ke blog aku? Hehehehe. Aamiin Ya Allah atas doanya. Terima kasih banyaakkk :--)

Zara Fadhila said...

Hai Mba Lestari! Semoga mba baca balasanku yaaakkk hehehehe. Apa kabar mbaa? Semoga selalu dalam kondisi baik yaa. Semoga yang direncanakan berjalan dengan baik! Aamiin ya Allah. Tetap semangat untuk kita semuaaa :---)

Norman Hendrawan Gultom said...

Halo Zara!
Masih ingat aku? Wkwkwkwk (samvah lu north!)

Cheer up Zoro! :)))))
Idk what to tell sih, tapi yang penting tetap usaha dan tetap percaya sama yang empunya ya. :3

Post a Comment