Pages

Thursday, June 2, 2016

Cinderella Story

Assalamu'alaikum Warrahmatulahi Wabarakatuh!!

Apa kabar semuanyaaa????

Gimana gimana, udah pada kawin belom?? Hihi. Santai aja cyin, marriage is defitinely not a race! If God thinks that you have not been ready for it, you will never be in it. Have a faith! :')

--

Aku mau cerita sedikit tentang perizinan nikah yang aku sampaikan sebelum akad dimulai. Sebuah momen yang teramat sangat menyentuh semua pengunjung yang hadir di situ. Not even 1 person not crying hearing me..

Aku anak yatim piatu.

Ya, ibu kandungku meninggal saat usiaku masih 5 tahun. Aku ketika itu anak ke-4 dari 5 bersaudara. Adikku masih bayi, masih merah, masih nyusu sufor untuk anak usia kurang dari 6 bulan. Mama meninggal dunia di usia 39 tahun karena kanker usus besar yang dideritanya. Saat itu teknologi belum secanggih sekarang.. Bulan Januari 1997, mama didiagnosis hanya menderita maag akut saat observasi2 pertama akibat terlalu sering muntah dan jadi kurusss padahal saat itu usia kandungan adikku masih 6 bulan.

Semakin hari sakitnya mamah semakin parah.. Tidak mungkin dilakukan scanning perut saat adikku masih di dalam kandungan. Akhirnya dengan terpaksa, pada usia masih 8 bulan, adikku dikeluarpaksakan di Bulan Maret 1997. Mama hanya bisa melihat adik dari foto karena mama tidak bisa meninggalkan rumah sakit dan bayi tidak boleh dibawa masuk ke rumah sakit.. Adikku dirawat oleh budeku dan tidak bisa diberikan ASI.

Setelah observasi mendalam, ternyata ada tumor sebesar bayi 9 bulan di usus besar dan kemudian diangkat dari usus mamaku. Saat dokter menyerahkan tumor tersebut kepada pakde (kakak mamaku), pakde tidak sengaja menjatuhkan massa tersebut dan suara jatuhnya DUGG!! Seperti suara batu yang dijatuhkan dari ketinggian dada manusia. How did that thing grow up in my mom's stomach?!

Unfortunately, the tumor has spreaded all over my mom's body. Bermeter-meter usus sudah dipotong.. Berkilo-kilo berat badan sudah berkurang dari tubuh mama.. Akhirnya mama sudah tidak tahan lagi. Mama meninggal pada tanggal 21 Juli 1997 di usia 39 tahun.

Apa yang terjadi dengan ke-5 anak mama? Papa seperti orang stres. Bagaimana tidak stres? Di usia dan kariernya yang masih muda, papa ditinggal mama dan ada 5 anak yang masih butuh sosok seorang mama. Papa mengasingkan diri di Bandung. Kami, anak-anaknya, ditinggal di Jakarta bersama pembantu dan budhe-pakde yang tidak tega meninggalkan kami.

Ternyata di sana beliau rutin mengunjungi salah satu pesantren agar hatinya tenang. Di situlah beliau meminta kyai di pesantren tersebut untuk mencarikan sosok mama baru bagi anak-anak beliau. Anak pesantren, insya Allah agamanya baik. Wanita beriman yang tidak akan menyakiti anak-anak tirinya karena tau bahwa setiap tindak-tanduknya diawasi oleh Allah. Egois? Tidak. Itu adalah ladang pahala.

Setelah hasil istikhoroh sang kyai, muncullah nama Nani Dahniarni. Seorang wanita lulusan IKIP Bandung (sekarang UPI) yang mengabdikan dirinya untuk mengajar di pesantren. Sulit bagi Ibu Nani untuk menerima seorang duda beranak 5. Kata orang, satu-satunya alasan seorang perawan menerima lamaran seorang duda adalah karena muka dan harta. Well, papahku tidak punya keduanya.

Muka pas-pasan. Bahkan kata pakde-budeku, papa itu orang terjelek yang pernah jadi pacarnya mamah. Harta apa adanya, secara hanya jadi PNS biasa. Anak 5. Anak 5.

Bahkan nenek (ibunya Ibu Nani) sempat menolak! Tidak rela jika anak pertamanya harus menikahi duda tua beranak 5. Tapi hati berkata lain.. Nenek terenyuh saat kami, anak-anaknya papa, datang ke rumah nenek di daerah Majalengka untuk bersilaturahmi pertama kalinya. Kami, anak-anaknya papa, langsung berlarian memeluk nenek. Kami, anak-anaknya papa, rindu sosok mama Nek! Kami, anak-anaknya papa, meminta nenek untuk mengikhlaskan Ibu Nani untuk menjadi mama kami ya Neek..

Nenek menangis. Kami tertawa. Tertawa bahagia karena tau sebentar lagi kami akan punya mama (lagi). Tertawa bahagia karena tau sebentar lagi adik bayi kami tidak akan terlantar lagi.

Tanggal 11 Januari 1998, Ibu Nani menikahi papa. Sejak saat itu kami memanggilnya Bunda.

13 tahun. Hanya 13 tahun Bunda mendampingi papa. 

Tanggal 14 Februari 2010, giliran papa yang meninggalkan kami..

Saat itu masih subuh, tiba-tiba banyak orang menggedor-gedor pintu rumah kami. Kami semua masih tidur, tapi orang tersebut semakin kuat menggedor rumah kami. Aku bangun, karena mereka berisik!

Ternyata mereka jamaah subuh di Masjid Baiturrahim. Mereka teriak-teriak dari luar rumah kalau papa sakit di masjid. Kita semua harus ke masjid sekarang juga.

Sebelum aku terbangun dari tidur, aku bermimpi sedang berlari. Tiba-tiba papa datang menyusul aku dan berkata, "Dek, jangan terlalu banyak makan santan ya! Nanti kamu sakit jantung." Setelah itu aku langsung terbangun dari tidur.

Sesampainya di masjid, aku melihat papa terbujur kaku. Aku melihat jamaah subuh mengelilingi papa sambil menangis. Dan aku melihat............bundaku menangis memeluk papa sambil memohon-mohon agar papa bangun kembali. Papa meninggal karena serangan jantung ketika sedang solat subuh di Masjid Baiturrahim. Papa mengalami sakaratul maut saat sedang solat. Papa meninggal insya Allah dalam keadaan khusnul khotimah..

Banyak yang mengira bunda akan meninggalkan kami setelah papa meninggal. Ternyata tidak! Bunda semakin rajin bekerja untuk kami. Ladang pahala masih banyak yang harus dipanen. Tidak terbersit sedikitpun di benak bunda untuk menikah lagi. Karena bunda takut kalau suatu saat bunda meninggal, pria yang baru dinikahinya itu akan meninggalkan anak-anak papa.. Karena bunda terlalu sayang kepada kami. Karena bunda terlalu takut kepada Allah...

--

Saat itu yang menjadi waliku adalah kakak pertamaku. Dia satu-satunya orang yang ga nangis. Bukan karena ga bisa nangis, tapi mau terlihat kuat sebagai wali aku. Tapi sebetulnya dia sangat terharu sampai dia menulis surat untuk anak perempuannya seperti ini di tengah kesibukannya..

Karena cinderella adalah cerita dusta
Anakku tersayang
Kali ini akan kuceritakan untukmu
Tentang seorang wanita 
Bukan untuk menceritakan sebuah derita
Tapi agar engkau mengambil pelajaran
Untuk hidupmu kelak

Anakku tersayang
Wanita ini menerima lamaran seorang laki-laki
Sekaligus mewarisi lima orang anak yang ditinggal wafat ibu kandungnya
Padahal saat itu dia masih gadis 
Anak yang tertua pada saat itu masih berusia 13 tahun
Sedangkan yang paling kecil berusia 4 bulan

Anakku tersayang
Tidak ada awal yang mudah baginya
Anak-anak ini sudah terlanjur mengenal siapa ibu kandungnya yang sebenarnya
Terkecuali mungkin yang paling kecil 
Kalau kuceritakan kekurangajaran anak-anak itu barang kali tidak cukup halaman ini memuatnya
Apalagi kenakalan anak yang paling tua
Semoga engkau tidak menirunya

Anakku tersayang
13 tahun kemudian ibu ini kemudian menjadi orang tua tunggal
Orang tua tunggal terhadap 5 orang anak tiri dan 1 orang anak kandung
Bayangkan anakku
Orang tua tunggal untuk anak tiri dan jumlahnya lima sekaligus
Tapi memang wanita ini luar biasa

Anakku tersayang
Mungkin suatu saat nanti engkau akan mendengar cerita cinderella
Cerita seorang anak yang diperlakukan buruk oleh ibu tirinya
Tapi kemudian berhasil mendapatkan kehidupan mewah dengan menikahi seorang pangeran
Bagi kelima anak itu 
Sungguh itu cerita dusta
Tidak ada kelima anak itu yang diperlakukan buruk
Ataupun kemudian menjadi pembantu serta dikurung dalam rumah
Alhamdulillah mereka berhasil dengan jalan halal nya sendiri-sendiri
Dan anak kandungnya sendiri kemudian menjadi hafizh quran

Anakku tersayang
Cinderella menjalani hidup bahagia setelah dinikahi seorang pangeran 
Dengan pernikahan yang mewah tiada terkira
Tapi untuk wanita ini
Dia nikahkan anak perempuannya dengan laki-laki pilihannya 
Tanpa perlu menunggu seorang pangeran datang melamar dan menawarkan pernikahan ala kerajaan

Anakku tersayang
Terdapat perintah Rasul untuk menaati Ibu tiga kali lipat daripada kepada ayah
Dan bahwa keridhoan Allah tergantung kepada ridho orang tuanya
Salah satu anak dari kelima orang tersebut bertanya kepada seorang ustadz di sebuah pengajian
“apakah itu maksudnya kepada orang tua kandung?”
Ustadz menjawab
“Ya, hanya kepada orang tua kandung” 
Tapi Kau tahu anakku
Kelima anak ini hanya punya wanita ini sebagai orang tuanya
Mereka tidak punya pilihan lain
Demi Allah tidak ada pilihan lain
Sampai mati pun
Mereka berlima berhutang budi kepada wanita ini

Anakku tersayang
Sungguh kebaikan atau keburukan tidak mengenal status
Apakah dia ibu kandung atau ibu tiri
Bisa jadi suatu saat engkau ditakdirkan memiliki anak tiri
Maka perlakukanlah mereka dengan semulia-mulia akhlak
Karena manusia adalah budak kepada akhlak yang mulia
 Dan kudoakan agar engkau bisa memilikinya

Bandung 7 april 2016
Pukul 1.40
(setelah selesai mengerjakan tutorial MPPD)

--