Pages

Friday, July 14, 2017

Welcome to The World, Baby Raka!

Assalamu'alaykum wr wb semuanyaaa!

Alhamdulillahirabbil 'alamin..
Telah lahir ke dunia, putra pertama kami yang bernama
Rayhan Khalid Haddade (Raka)
Pada tanggal 19 Juni 2017 pukul 19.55
Di RSIA Bunda Aliyah
Dengan BBL 3.510 gram, PBL 51 cm, & lingkar kepala 35 cm.

MasyaAllah, semoga ananda tumbuh menjadi anak yang sholeh, sehat, berbakti, dan bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara. Aamiin ya Allah. Baarakallahu fiik! :--)

-----------------------

Benar kata orang yang bilang bahwa persalinan pertama merupakan momen seumur hidup yang tidak akan pernah dilupakan! Begitu pun diriku hahaha. Aku mau cerita tentang pengalaman persalinan yang menurutku sangat luar biasa, tidak dapat diukur dengan kata-kata, dan aku baru tau betapa perjuangannya seorang ibu (baik anak pertama, kedua, dan seterusnya) ketika memberikan kehidupan kepada janin yang sedang dikandungnya. Momen di mana aku berharap ibu kandungku hadir lagi ke dunia ini agar aku bisa bersimpuh di bawah telapak kakinya..

Senin, 19 Juni 2017 bertepatan dengan 40 minggu masa kehamilanku. Waktu yang dibatas-akhirkan oleh dokter Alesia yang tidak mau ada persalinan di atas 40 minggu karena terlalu berisiko. Memang kalau kata praktisi-praktisi gentle birth, bayi akan menemukan dan menentukan sendiri kapan dia akan dilahirkan. Tapi aku juga tidak bisa membantah prinsipnya dokter Ale yang pasti punya educated reasons dengan ilmuku yang mungkin hanyak seujung sinapsnya dokter Ale hahahaha~

Aku bahkan tau ada seorang DSOG yang praktik di bilangan Harmoni, yang berkeyakinan bahwa bayi itu harus dilahirkan maksimal di usia 9 bulan 10 hari (atau 37 minggu + 3 hari) sesuai dengan waktu yang difirmankan Allah di Alqur'an sesuai dengan kalender Hijriyah (bukan Masehi). Jadi, semua pasiennya dia (semuanya lho!) harus induksi di usia kandungan segitu! Dan semua pasiennya harus melahirkan normal! War biaza!

Hari Sabtu 16 Juni yang mana menjadi kontrol kehamilan terakhirku, aku sudah disiapkan surat rujukan oleh dokter Ale untuk dilakukan induksi jika sampai pada hari Senin 19 Juni belum ada tanda-tanda persalinan alami. Bahkan di tanggal 16 Juni itu dokter Ale langsung melakukan "cek dalam". Tau cek dalam? Itu lho, jarinya dokter dimasukkin ke dalem liang vagina. Dalemnya itu daleeem banget sampe nyentuh jalan lahir. Rasanya? Hahahahahahahaha aja deh........... sakit booook ngiluuuu! Temenku yang dokter pernah cerita kalo pasiennya keenakan pas temenku ngecek dalem jalan lahir ibu itu (temenku itu lakik). Apaan yang enak ibooooookkk zzzzz. Aku sampe disindir sama dokter dan suster di situ, "gimana mau lahiran normal kalo cek dalem aja udah sakit ketakutan"

Ya kali daah, dokter kan ngeceknya mendadak... tau2 ngomong, "cek dalem yuk" zzzz. Syok bingit.

Karena gelombang cinta tak kunjung datang, akhirnya datang juga hari yang tidak ditunggu-tunggu. Senin, 19 Juni 2017 yang tak terlupakan.

Setelah membangunkan suami untuk makan sahur, aku lanjut tidur lagi sebentar dengan perasaan ga karuan. Hari itu memang aku sudah niat untuk tidak puasa karena melahirkan normal butuh energi luar biasa. Sehari sebelumnya pun kami sudah beli madu hutan, pisang susu, Pocar* Sweat, dan beberapa cemilan sebagai tambahan energi yang dapat diserap tubuh dengan cepat. Bangun pas azan subuh, langsung mandi, solat, baca Qur'an, dan berdoaaaa minta diberikan yang terbaik oleh Allah SWT. Tidak lupa mengajak ngobrol si bayi di dalam perut supaya bisa keluar dengan cepat. Aku ajak si dedek untuk kerja sama dengan rahim, plasenta, tali pusat, dan ketuban untuk keluar bersama-sama tanpa episiotomi dan forcep. Pokoknya an easy labor dengan kontraksi yang tidak lama. Nangiiisssss senangis-nangisnya waktu berdoa sama Allah dan ngobrol sama si dedek. Ibarat jihad, udah siap untuk mati syahid insyaAllah. Apapun yang terjadi, terjadilah. Meskipun dari awal berdoa supaya ga perlu diinduksi dan ternyata takdir berkata lain, apa boleh buat. Mungkin di sini letak perjuanganku.

Ga lupa pamitan dan minta restu sama orang-orang di rumah, terutama bunda. Meskipun bukan ibu kandung, tapi bagaimanapun juga beliau adalah seorang ibu yang telah melahirkan adik bungsuku hingga harus mengalami ambeyen selama 5 tahun karena proses persalinan yang sangat luar biasa. Minta doa restu dan permohonan maaf kalau diriku punya banyak salah, tak terasa air mata netes lagi. Hiks. What an emotional morning for me.. bunda cuma berpesan, "nanti apapun diagnosis dokternya turutin aja, jangan pikirkan biayanya ya.." huwaaa tambah mewek deh karena kemungkinan SC kalo induksinya gagal pasti ada huhu...

Sepanjang jalan berdoaaa terus sambil elus2 perut,
 "Ayo nak, keluar yuk! Ga usah lama2 ya nak.."

Sampai di RS, suami langsung urus administrasi sementara aku duduk di bangku-bangku biasa dipakai untuk antrian kontrol. Biasanya penuh nih bangku, pada saat itu cuma aku sendirian bersama beberapa orang CS yang lagi bebenah. Pikiranku udah ga karuan dah pokoknya hahahaha. Jadi gini toh rasanya terpidana hukuman mati yang lagi nungguin waktunya tiba...... hahahahaha #stres

Setelah urus adminitrasi, kami langsung diantar menuju ke..............ruang bersalin (VK). Ngga deng, ke ruang observasi di dalam kamar bersalin lebih tepatnya. Di pikiranku, ruang bersalinnya itu kayak di Harapan Kita, jadi 1 ruang hanya untuk 1 pasien. Ternyata di Bunda Aliyah ini kaga. 1 ruang untuk bareng-bareng yang hanya dipisahkan gorden-gorden hijau! Kek manaaaa coba bayangkan! Kalau kita denger suara orang tereak-tereak kesakitan kontraksi atau lagi ngeden, jiper ga sih??????? Untungnya pada saat itu aku masih sendirian di ruang observasi..

Aku langsung ditangani oleh seorang bidan baik hati, tidak sombong, dan (mungkin) rajin menabung. Aku tak tau namanya siapa hehe tapi mayan ramah kok. Disambutnya dengan apa coba? Yak betul, cek dalam (-----_-----) and for your information, mbak bidan ini rada gemuk yha jadi jari-jarinya lebih gemuk dong yha dari pada jarinya dokter Ale.

MB: mba bidan
Z: zahra

MB: " Tenang aja ya bu. Rileks. Pantatnya jangan diangkat. Kalo rileks pasti ga akan terlalu sakit deh"
Z: "Ga bisa pake cara lain aja ya sus? (biarlah semua bidan pun ku panggil "sus" aja yha)
MB: " cara lain gimana?"
Z: "ya ga usah cek dalam gitu lho....."
MB: "lha terus kita tau udah pembukaan berapanya gimana?"
Z: "iya juga sih.."
MB: "udah pokoknya ibu tenang aja. Tarik napas panjang lewat hidung, tahan sebentar, keluarkan perlahan lewat mulut. Rileks. Saya mulai ya bu. ((Masukin tangan gendutnya ke dalam liang vagina))
Z: hekkkkkk (ceritanya nahan napasnya kelamaan)
MB: "buk, rileks aja bu. Pantatnya ga usah naik ini jari saya jadi kejepit di dalem. Turunin bu pantatnya. Nah gitu. Tarik napas panjaaang ((makin ngorek ke dalam, makin dalam, makin dalaaammm~~~~~~~)). Oke bu, udah pembukaan 1 ya ternyata. Mungkin dari kemarin ibu sudah kontraksi tapi ga kerasa aja ya. Ya sudah kita CTG dulu ya, abis itu cek darah.

Alhamdulillah penderitaan cek dalam ini berakhir. MasyaAllah.... selanjutnya CTG adalah suatu alat untuk mengukur detak jantung bayi, pergerakan bayi, dan ada-tidaknya kontraksi. Jadi ibarat kesiapannya si dedek untuk dipaksa keluar melalui induksi gitu deh. Jadi perut kita dipasang alat berbentuk bulat yang nyambung ke suatu kotak gitu deh. Nanti kita diharuskan untuk telentang selama 20 menit sembari si alat itu merekam jantung bayi dan mendeteksi kontraksi. Pergerakan bayi diketahui dari tombol yang harus kita pencet tiap kali kita merasa bayi kita bergerak. Dari CTG ketahuan kalau bayiku sehat wal 'afiat. Cek darah juga mengonfirmasi kalau HBku dan segala macamnya baik. Sehingga apa? Sehingga induksi dapat dilakukan! Jeng jeng jeng jeeeeeng.

Tepat jam 8, bidan tersebut masuk lagi ke gordenku (ku sebut gorden karena emang kasurnya cuma dikelilingi gorden~~).

MB: "Kita mulai ya bu induksinya. Sesuai dengan instruksi dokter Alesia, induksi dimulai dengan memasukkan pil induksi ini melalui vagina menuju jalan lahir yang berguna untuk melunakkan serviks. Karena ibu sebelumnya belum pernah merasakan kontraksi, kita coba dulu dengan dosis yang paling rendah lalu berangsur ke dosis tinggi jika respon tubuh ibu terhadap obatnya baik. Nanti akan kita observasi tiap 4 jam untuk melihat perkembangannya ya bu. Buka kakinya ya bu, akan saya masukkan obatnya ke dalam jalan lahir seperti sedang cek dalam ya bu. Nanti ibu harus tiduran selama kurang-lebih 45 menit ya bu. Ibu bisa pindah ke ruang rawat kalau sudah lebih dari 45 menit ya bu. Rileks, tarik napas panjang, tahan, keluarkan perlahan ya bu. Saya mulai induksinya."

Ituuu rasanyaaaaaa korek-korek-koreeeeek terus yang dalaaaaaammmmmmmmmm masyaAllaaaaaahhhh...... seukuran kepalan tangan masuk melalui liang vagina aja maknyus yha apalagi seukuran bayi.......

Setelah 45 menit, aku udah boleh duduk dan makan sarapan yang dibawakan oleh bidan ke gordenku. Menunya adalah spaghetti bolognese yang porsinya dikittt bener. Huft, kurang maaakk, butuh asupan energi lebih banyak nihhhh. Setelah makan, kita pun pindah ke ruang rawat dulu dan diharuskan untuk kembali lagi ke ruang observasi sekitar jam 12 (4 jam setelah induksi dimasukkan).

Sejam pertama.... Mana nih, kontraksi yang katanya diceritain orang-orang. Begini doang? Ini mah kram perut pas lagi mens!

Jam kedua..... oke, mungkin gue kualat kali ya gara-gara ngeremehin kontraksi di jam pertama. Solat duha aja lah dulu sembari ngaji. Mayan kan sambil ngisi waktu di bulan Ramadhan.

Jam ketiga. Dah mulai ga nyaman. Active labour mulai dilakukan. Jalan sana, jalan sini, deep squat, nungging-nungging, naik turun tangga pijakan kasur.

Jam keempat. Maaak. Jalan sudah mulai tertatih, mulut sudah sering merintih, lambung sudah mulai bergejolak (laper buk?. Oke, makan siang dah dateng. Makan dulu aja deh sebelum ke ruang observasi. Pasti udah nambah nih pembukaannya. Pasti ini mah. Sakitnya dah beda soalnya. Selesai makan dan solat zuhur, diriku dan suamik balik lagi ke ruang observasi jam 12.30.

Jam 13.00 masuk ruang observasi. Yes! Dapet ruang observasi yang privat! Hihi. Yang dilakukan pertama kali adalah CTG. Oh men, ternyata active labour itu bener banget bisa ngurangin sakit CTG itu kita kudu telentang tak bergerak selama kurleb 30 menit, dan memang kontraksi yang dirasain kalo kita cuma tiduran doang itu luar biasa banget lho. Hasil CTG menunjukkan bahwa dedek masih aman (tidak stres) dan kontraksinya sudah semakin heboh (terlihat dari grafik). Jam 14.30 dicek dalam, ternyata masih pembukaan 1! Huwaaaaa bagaimanaaa. Karena dr Alesia hari itu ada praktik sore, jadi ku disuruh tunggu beliau visit sekaligus nunggu pertambahan pembukaan. Saat itu ku udah ga boleh balik ke ruang rawat dan harus tunggu di ruang observasi.

Jam 16.00 dokter Alesia datang dan langsung apa saudara-saudara? Cek dalam. Zzzz I hate cek dalam. Guess what? Pembukaan masih 1 dan kepala dedek masih jauhh di atas! 8 jam induksi, dan meskipun kontraksinya sudah hebat, ternyata tidak menambah pembukaan maupun menurunkan kepala dedek ke posisi yang benar. Dokter bilang ini kemungkinannya jadi 50:50 kalau mau diteruskan induksi. Bisa-bisa 24 jam induksi pun belum tentu progress nya bagus kalau 8 jam pertama aja sudah seperti ini. Dokter memberikan opsi, mau meneruskan induksi tapi harus siap-siap long labour dan ada kemungkinan akan berakhir dengan SC juga, atau SC saat itu juga. Jeng jeng jeng.

Akhirnya aku minta waktu untuk berpikir dan berdiskusi dengan suami dan keluarga di ruang rawat. Terjadilah pergumulan batin yang luar biasa, terutama masalah biaya. SC kan mahaaal dan suami tidak mempersiapkan dana untuk SC huhu. Tapi suami meneguhkan aku kalau masalah biaya insyaAllah ada jalannya, sekarang yang penting kondisiku dan dedek. Akhirnya dengan derau air mata karena tidak bisa merasakan persalinan normal seperti wanita pada umumnya, dipraktikkanlah ilmu yang paling sulit, ilmu ikhlas.

Jam 17.00 konfirmasi ke ruang bersalin kalau bersedia SC. Suami urus ini-itu dan aku tetap di ruang rawat ditemani mertua yang terus-terusan membesarkan hatiku bahwa normal ataupun SC tidak mengurangi perjuangan kita sebagai seorang ibu. Melahirkan itu harus gembira! Ga boleh nangis! Perasaan campur aduk banget.. apalagi kontraksi makin lama makin kuat..

Jam 17.30 ku masuk ruang bersalin untuk pasang infus dan cukur bulu kemaluan. Jam 18.00 masuk ruang operasi untuk tunggu giliran. Itu adalah salah satu momen terluar biasa sepanjang sejarah kehidupan (lebay). Kontraksi makin kuat, ku harus tiduran miring ke kanan ga bisa bergerak, telanjang bulat cuma ditutup semacam apron gitu, dingin banget, bunyi suara "net-net-net" khas ruang operasi, orang-orang lalu lalang pake baju hijau....... itu bikin stres lho sungguh. Dulu aku yang sering ngeliat orang dioperasi pas masih kerja di bagian laboratorium embriologi, sekarang aku yang harus dioperasi!

Ternyata aku ga bisa langsung operasi. Harus tunggu dr Alesia kelar makan malam, solat, dan sebagainya dulu..... akhirnya diriku dibawa ke dalam ruang operasi jam 19.30. Oh my God. I've got to see this only on Grey's Anatomy, and now I'm the patient. Disambut oleh seoang dokter sepuh yang berkata, "Ibu Zahra, saya dokter *** (lupa namanya) yang akan menjadi asisten dokter Novi ya (ternyata dokter Alesia dipanggil Novi di sini..)"

Lalu disambut juga oleh dokter anestesi yang baik hatiii dan enak diajak ngobrol. Ga kayak dokter anakku yang jutek bener ampooon. Dokter anestesi menjelaskan sistematika dan efek samping pembiusan selama operasi.

Di dalam ruang operasi berwarna oranye (yes! Oranyeeee), aku disuruh berguling ke meja operasi. Ya ampoooon, sapi gelonggongan yang lagi mules gini disuruh guling ke meja operasi!! Zzz. Itu pun harus nunggu dulu sampai dokter Alesia selaku leader siap untuk melakukan operasi. Dingin banget ga bohong. Ku minta AC dibesarkan sedikit tapi permintaanku tidak dikabulkan. Mataku berjalan2 ke sekililing ruangan dengan segala macam peralatan yang betul2 hanya pernah ku liat di Grey's Anatomy. Oh God, please help meeee.

Setelah dr Alesia siap, diriku langsung disuntik di tulang belakang. Selanjutnya prosesnya berlangsung cepat tapi menegangkan.. pasang kateter, tubuh bagian bawahku udah kebuka bangett ga tau siapa aja yang ada di dalam ruang operasi, pasang ini itu di tangan, tekanan darah dicek secara berkala, kedinginan dan menggigil sampai aku dibawakan selimut tambahan untuk nutupin dadaku.

Sampai dokter Alesia datang, ngintip ke aku sambil bilang, "terus berdoa ya Zahra". And the surgery began. Sebetulnya aku bisa lho liat apa yanh sedang mereka lakukan di bawah sana, karena lampu operasi ada yang mati bohlamnya jadi bisa memantulkan kegiatan di bawahnya. But I wasnt that brave. I chose to look to the other side and felt the sensation of them pulled my belly here and there. Hiks! That was so scary.

Ga berapa lama, dokter anestesi tiba2 menjamah perut bagian atasku. Dengan aba2 dari dokter Ale, "ayo terus dorong dok", dokter anestesi ternyata membantu dokter Ale untuk mengeluarkan dedek dari perutku. Dorong sana, dorong sini, Allah.............. ilmu pasrah betul-betul aku terapkan saat itu. Aku mempercayakan nyawaku dan nyawa anakku pada tenaga2 medis ini..... Ga berapa lama setelah peristiwa dorong-mendorong itu, aku mendengar sayup-sayup tangisan bayi yang makin lama makin keras. Allahuakbar.. I am officially a mother of a crying baby..

Setelah itu tiba2 tangisannya menjauh, lho lho, kok ga kayak orang2 yang anaknya dibawa ke muka emaknya? Oo ternyata anakku harus diobservasi dulu sebelum diperlihatkan ke aku.. setelah itu tiba2 suster datang dari samping mukaku.

"Bun.. ini anaknya laki-laki yaa. Sehat, kuat.. BB 3510 gram, tinggi 52 cm.. ini saya taruh di dada bunda yaa."

Ya ampun, so this is it my baby little boy. Hidungnya demesh ya kayak emaknyaa.. sayang, karena SC jadi ga bisa IMD. Kata susternya harus langsung dibawa lagi untuk observasi lanjutan.. oke deh gapapa, see you real soon my baby!

Sembari otak ini masih memproses peristiwa mengharukan yang baru saja terjadi, ternyata masih terjadi proses obras-mengobras dan sedot-menyedot di bawah sana. Badanku udah makin menggigil, lengan udah pegel banget karena harus membuka ke kanan dan ke kiri, wah udah ga karuan deh. Akhirnya operasi dinyatakan selesai sekitar pukul 20.15, tapi aku harus tetap di recovery room selama 2 jam untuk observasi sekiranya ada komplikasi. Alhamdulillah, aku sehat wal 'afiat meskipun badan super menggigil... keluargaku satu persatu masuk ke ruang tersebut sambil ngucapin selamat. Saking banyaknya yang keluar-masuk, staf ruang operasi sampe negur mereka hahaha.

Oh ya, hari itu dokter Alesia ada 3 SC berturutan lho. Ga tau deh gimana pasien2 kontrol.. pasti nunggunya lama banget tuh. Sabar yaa bunda-bundaa, insyaAllah nanti kalian juga diprioritaskan kok.. Baarakallahu, dokter Alesia. Sampai ketemu lagi di kehamilan selanjutnya, insyaAllah. Tapi dengan diriku yang lebih siap dan belajar banyak tentang gentle birth :-)

Setelah semuanya dinyatakan oke, diriku dibawa ke ruang rawat untuk istirahat. Karena dedek dilahirkannya malam (19.55), rooming-in belum bisa dilakukan malam itu karena harus melalui proses observasi selama 6 jam. Alhamdulillah sih, jadi diriku bisa istirahat dari proses yang panjang di hari itu. It was like the longest day of my entire life!

Tapi perjuangan belum berakhir.. ternyata perjuangan sebenarnya sebagai seorang ibu justru dimulai setelah bayi dilahirkan! And the following night was the longest and worst night of my life! Hahaha. Motherhood! <3 p="">


Assalamu'alaykum warrahmatullahi wa baarakatuh.

MasyaAllah, ta baarakallahu, Raka.

0 comments:

Post a Comment